Contoh Kerangka Penulisan Bab I Pada Skripsi dan Tesis untuk Penelitian Eksperimen dan Pengembangan

Contoh Kerangka Penulisan Bab I Pada Skripsi dan Tesis Pada Penelitian Eksperimen dan R and D


Ahmad Dahlan. Penulisan Skripsi dan Tesis merupakan momok menakutkan bagi sebagian Mahasiswa yang menempuh studi akhir dalam jenjang apapun. Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan dan berbagi bersama teman-teman, ada dua alasan mengapa hal ini terjadi yakni (1) merasa tidak tahu mengerjakan dan (2) takut salah. Padahal kampus sejatinya lembaga belajar oleh karena kesalahan adalah satu bentuk pembelajaran namun bukan berarti kesalahan tersebut boleh disengaja. Sebagai bentuk berbagai, berikut ini panduan dan contoh kerangka penulisan Bab I pada Skripsi dan tesis.

A. Latar Belakang 
Latar belakang adalah sekumpulan masalah yang ditemukan oleh para peneliti yang dijadikan acuan mengapa sebuah penelitian harus dilakukan. Masalah-masalah tersebut merupakan akumulasi dari masalah yang tampak dilapangan baik melalui pengamatan sederhana, studi pendahuluan atau berdasarkan penelitian terdahulu yang tentu saja masih relevan. Masalah-masalah yang diajukan dalam peneliti juga disertai tentang gambaran singkat mengenai pendekatan dari solusi yang mungkin saja menyelesaikan masalah yang muncul secara teoritis. Adapaun kriteria dari masalah dan solusi yang dimasukkan dari latar belakang paling tidak memenuhi aspek-aspek berikut:

  1. Masalah yang disampaikan bersifat kontekstual – Masalah yang disampaikan harus bersifat kontekstual atau berdasarkan fakta. Masalah yang dipaparkan berasal dari pengamatan langsung dilapangan dalam bentuk data kualitatif. Metodenya bisa wawancara atau pengalaman dari peneliti dalam kurung waktu yang tertentu disatu tempat. Selain dari pengamatan dan pengalaman peneliti, masalah bisa jadi merupakan hasil penelitian orang lain yang masih terbatas atau penelitian dari lembaga survey yang kredibel tentu saja masalah tersebut masih relevan untuk diteliti dan dianggap perlu untuk diselesaikan. Tidak batasan waktu tertentu untuk relevansi masalah namun biasanya untuk penelitian dari lembaga yang kredibel biasanya masih relevan sampai 8 tahun sedangkan untuk pengamatan dan pengalaman terbatas dari peneliti hanya relevan dalam kurung waktu 1 atau 2 tahun. Kesalahan yang paling sering dilakukan adalah masalah yang diajukan bersifat teoretik bahkan ada yang mengada-ada. Sebagai contoh tanpa didasari data yang cukup peneliti menganggap suatu model pembelajaran di satu sekolah tidak baik terhadap hasil belajar siswa karena keyakinan peneliti bahwa model ceramah konvensional tidak baik.
  2. Keberagaman Masalah – Masalah yang dimasukkan dalam latar belakang tentu saja tidak satu jenis masalah. Hal ini untuk menghindari adanya asumsi yang telah dibangun oleh peneliti dalam memberikan solusi sehingga cenderung memilih masalah. Penelitian yang baik menjawab masalah yang ada dilapangan dan sudah menjadi ketentuan dan hukum alam jika suatu masalah yang terjadi di lapangan pasti besifat kompleks. Dalam latar belakang sebisa mungkin peneliti mengumpulkan masalah-masalah yang ada di lapangan.
  3. Harapan dari Undang-undang dan Permen atau tujuan belajar dari daerah dan juga nasional – Beberapa harapan yang tercatut dalam undang-undang biasanya menjadi masalah ketika terdapat kesengajangan antara harapan dan kenyataan yang ada dilapangan. Oleh karena itu menuliskan Undang-udang, permen, tujuan pembeljaran nasional atau daerah tidak masalah namun peneliti harus memberikan rincian menganai kesenjangan tersebut tidak serta merta mengutip. Sebagai contoh mengutip “ Salah satu tujuan yang ada dalam UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksankan ketertiban dunia” Hal ini dianggap gagal karena banyak siswa dianggap “belum cerdas” oleh peneliti, padahal tidak ada indikator yang jelas yang disampaikan peneliti tentang “mencerdaskan kehidupan bangsa”.
  4. Masalah yang disampaikan bersifat Eksplisit – Masalah yang dipaparkan dalam penelitian harus jelas dan dapat didefenisikan sehingga tidak mengambang. Masalah yang tidak dapat difenisikan tentu akan sulit untuk diatasi karena konteks dari masalah itu sendiri belum jelas. Contoh hasil belajar peserta didik sangatlah rendah oleh karena harus mengganti modul yang digunakan. Tentu saja hal ini tidak bijak karena ada tendesi khusus pada modul tanpa disertai dukungan. Jiak berada dalam kasus ini sebaiknya mencari dukungan tentang peran dan bentuk modul yang baik dalam pembelajaran.
  5. Solusi yang diberikan memiliki Landasan kuat - Kebanyakan peneliti pada taraf skripsi memilih solusi terlebih sebelum adanya masalah. Hal ini tentu saja gagal secara teoretik dan juag empirik. Sebagai contoh peneliti sebenarnya dari awal ingin menggunakan model pembelajaran X sebagai bahan penelitian sehingga peneliti berupaya mencari-cari alasan bahwa model yang digunakan guru A di sekolah Z tidak tepat. Solusi harusnya muncul setelah adanya masalah dan didukung dengan beberapa teori mengapa solusi tersebut dianggap baik dan dibutuhkan sebuah penelitian untuk mendukung teori tersebut.

Hal yang kedua yang harus diperhatikan dalam penulisan latar belakang adalah sumber data, fakta peraturan, hasil penelitian maupun teori yang digunakan relevan dengan masalah yang ditemukan dan actual. Seperti yang telah dikemukakan di atas, waktunya paling tidak 8 tahun untuk jurnal hasil penelitian atau paling 2 tahun untuk pengamatan sederhana dari peneliti, sedangkan untuk teori yang kemungkinan belum memiliki solusi bisa saja sudah berusia 20 tahun selama belum ada solusi atau penelitian terbaru yang berkaitan tentang teori tersebut. Semisal penggunaan hukum Archimedes yang sudah berusia 20 Abad jika masih benar dan relevan dengan penelitian tentu saja tidak masalah jika tetapi digunakan.

B. Identifikasi Masalah 
Identifikasi masalah ditulis dalam bentuk point dengan terlebih dahulu menyampikan harapan kemudian disusul dengan fakta yang ada dilapangan. Masalah-Masalah yang disampaikan tentu saja kumpulan dari masalah yang sudah dipaparkan pada latar belakang. Adapun contoh-contoh penulisan Identifikasi masalah:

  1. Pembelajaran fisika di kabupaten X tidak disertai dengan keterampilan proses sain peserta didik sehingga hasil belajar peserta didik hanya cenderung pada pengetahuan lower order thinking. (Contoh pada bidang pendidikan)
  2. Penggunaan energi listrik yang stabil akan memperpanjang usia penggunaan barang elektronik sedangkan fluktuasi arus bolak-balik pada sistem kelistrikan di rumah-rumah pada kota A masih jauh dari standar aman penggunaan listrik. (Contoh pada bidang Sains)

C. Batasan Masala
Batasan masalah adalah pemilihan satu masalah yang dianggap urgent atau sangat perlu untuk diselesaikan kemudian diberikan definisi konkrit dari masalah yang akan diselesaikan. Hal ini bertujuan untuk memudahkan peneliti dalam menentukan solusi yang akan dipilih. Masalah yang dipilih dijabarkan melalui beberapa indikator sehingga perubahan pasca pemberian perlakuan dapat dilihat berdasarkan perubahan indikator yang dimaksud.

Identifikasi masalah dibatasi dengan variabel-variabel yang bersesuaian. Variabel ini dijelaskan dan dikategorikan berdasarkan jenisnya variable yakni variabel bebas dan variabel terikat.

D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah turunan dari identifikasi masalah yang cenderung berisi solusi yang akan dijawab melalui proses penelitian. Rumusan masalah dituliskan dalam bentuk kalimat Tanya dengan dugaan jawaban yang sudah ada dalam kerangka piker peneliti sehingga jawana yang muncul sisa dua yakni sesuai atau tidak sesuai dengan solusi yang ditawarkan peneliti.

Contohnya: 
  1. Apakah tembaga dapat menghantarkan listrik? (Deskriptif kuantitatif dalam bidang Sains)
  2. Apakah Tembaga dapat menghantarkan listrik jauh lebih baik dibandingkan dengan emas? (Perbandingan dalam bidang sains)
  3. Apakah terdapat perbedaan positif yang signifikan antara penggunaan e-modul dan konvensional modul terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kabupaten Bantul? (Pada bidang pendidikan)

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah paparan mengenai jawaban yang didapatkan berdasarkan rumusan masalah yang telah diajukan sebelumnya. Oleh karena penulisan tujuan Penelitian tidak boleh jauh-jauh dari Rumusan masalah.
Contohnya: 

  1. Untuk mengetahui daya hantar tembaga terhadap listrik. (Deskriptif kuantitatif dalam bidang Sains)
  2. Untuk mengetahui apakah tembaga dapat menghantarkan listrik jauh lebih baik dibandingkan dengan emas. (Perbandingan dalam bidang sains)
  3. Untuk mengetahun apakah terdapat perbedaan positif yang signifikan antara penggunaan e-modul dan konvensional modul terhadap hasil belajar bahasa Indonesia di kabupaten Bantul. (Pada bidang pendidikan)

F. Spesifikasi Produk yang dikembangkan (Pada Penelitian R & D )
Spesifikasi produk yang dikembangkan adalah rincian mengenai produk. Rincian berisi ukuran, bentuk, warna serta penjelasan singkat mengenai tata cara penggunaan produk. Spesifikasi produk juga berisi tentang perbedaan dan keunggulan yang masih pada tataran teoretik berdasarkan pengembang.

G. Asumsi dan Keterbatasan (Pada Penelitian R & D )
  1. Asumsi – Adalah anggapan yang ada dilapangan serta berkaitan dengan penelitian yang kebenarannya sudah dapat diterima secara umum tanpa perlu dilakukan pembuktian. Misalnya: Peserta didik pada tingkat SMA sudah mampu berfikir secara konkret operasional dengan rentang usia mulai dari 15 sampai dengan 19 tahun. Anggapan sudah didukung secara teoritis sehingga dan dapat diterima secara umum sehingga tidak perlu lagi dibuktikan terlebih dahulu melalui proses pengukuran.
  2. Keterbatasan - Keterbatasan penelitian adalah gambaran mengenai dimana produk dikembangkan dan diujicobakan sehingga untuk calon pengguna produk dapat mengetahui kekurangan jika produk tersebut digunakan dalam kondisi lain, misalnya : Pengembangan oli Sintesis dilakukan dan di uji coba pada daerah Khatulistiwa dengan suhu rata-rata harian berkisar dari 24 sampai dengan 33 derajat Celsius. Hal ini akan memberikan gambaran bahwa bagi mereka yang tinggal di kutub masih membutuhkan penelitian atau bahkan modifikasi struktur dari oli dalam penggunaan produk.
Contoh Kerangka Penulisan Bab I Pada Skripsi dan Tesis Pada Penelitian Eksperimen dan Pengembangan

Sumber Rujukan dan Bacaan

Kerlinger, F.N. (2006). Asas-Asas Penelitian Bevavioral. Yogyakarta : UGM 

McMillan, J.H., & Schumacher, S (2010). Research in Education: Evidence-Based Inquiry, 7th-ed. Virginia: Pearson

Stoner, J.A.F. (1982). Principal of Management 2nd-ed. Publisher, Prentice-Hall

0 Response to "Contoh Kerangka Penulisan Bab I Pada Skripsi dan Tesis untuk Penelitian Eksperimen dan Pengembangan"

Post a Comment