Pengantar Model Pembelajaran Kooperatif

Pengantar Model Pembelajaran kooperatif

Ahmad Dahlan. Pada suatu ketika sekelompok siswa diminta untuk mengamati jauh pancuran air yang keluar dari lubang di dasar tabung. Sebuah bejana dengan volume air yang semakin berkurang menyebabkan pancuran air semakin kecil sehingga pengamatan tidak bisa dilakukan sendiri. 

Seorang guru yang kreatif akan membentuk kelompok kecil yang terdiri dari beberapa siswa. Hal ini bertujuan agar proses pengambilan data tetap dapat dilakukan secara bersamaan yakni jarak air di tanah dan volume perubahan air di dalam bejana. Seorang siswa bertugas mencatat data yang mereka sebutkan serambi mendengar siswa lain membacakan Stopwatch. Pada proses kegiatan dan proses pengamatan dapat berjalan dengan cepat sehingga siswa memiliki lebih banyak waktu untuk menginferensi data yang telah didapatkan. 

Pada saat memperhatikan secara seksama proses pembelajaran di atas sangat jelas bahwa bekerja bersama akan menginfisienkan waktu dan tenaga dibandingkan dengan bekerja sendiri. Beberapa masalah bahkan hampir mustahil untuk dilakukan secara sendiri-diri, sehingga keberadaan orang lain akan menjadi kunci dari masalah yang sedang dihadapi.

Prinsip Dalam Pembelajaran Kooperatif.

Sebuah bentuk kooperatif akan melibatkan dua orang atau lebih mengerjakan suatu hal yang memiliki tujuan yang sama.  Tujuan tentunya harus searaha karena sangat susah mengarahkan kendaraan dengan dua tujuan secara bersamaan. Keberadaan individu dari kelompok akan memiliki andil tersendiri namun tetap pada usaha untuk menyelesaikan masalah utama. Eggen dan Kauchack (1996) juga berpendapat yang sama dimana tujuan dari pembelajaran kelompok tersebut harus tetap tetap memiliki tujuan bersama. Lebih jauh mengenai pembelajaran kooperatif, penekanan kolaborasi antar individu di dalam kelompok menjadi kunci kesuksesan proses pembalajaran kooperatif.

Sumbangsih individu di dalam kelompok tentu saja tidak serta merta dapat dikeluarkan secara maksimal oleh peserta didik di dalam kelas. Dibutuhkan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh anggota kelompok agar dapat mengerjakan beban yang telah diberikan. Pertimbangkan kejadian pada saat seorang peserta didik mendapatkan tugas untuk mengamati stopwatch, kompetensi dasar yang harus dimiliki adalah pengukuran dasar dan sangat mustahil untuk melakukan pengamatan tanpa memiliki kompetensi ini.

Sangat mustahil membentuk kelompok tanpa ada kompetensi dasar capaian. Analogi sederhana mengibaratkan bahwa setiap bagian dari spare part mobil memiliki tugas dan kemampuan yang berbeda-beda namun bagaimana cara kerja bagian tersebut, mobil tetap akan bergerak ke arah yang sama. Hal ini dijadikan sebagai pertimbangan dasar dalam membentuk kelompok sehingga sangat jelas pembelajaran kooperatif dipilih karena adanya asas kebutuhan.

Setiap bagian dari anggota kelompok pada pembelajaran kooperatif harus bekerja sama dalam upaya pencapaian tujuan bersama. Hubungan sosial antar anggota sangat berpengaruh pada proses pembelajaran, sedangkan keteraturan dalam menghubungkan kemampuan akan menentukan kualitas dari pencapaian tujuan. Sebuah kelompok yang terdiri dari ahli pada bidang-bidang masing akan menghasilkan hasil kerja yang lebih baik namun dalam proses pembelajaran aspek ini sebaiknya dihilangkan. Hal ini berdasarkan pada tujuan pembelajaran yang menitinkberatkan pada proses pendidikan dan pengajaran sehingga siswa dengan kemampuan rendah sebaiknya dikelompokkan dengan siswa dengan kemampuan tinggi.

Unsur-Unsur dalam pembelajaran Kooperatif

Pada sebuah model pembelajaran yang menerapkan strategi dan model pembelajaran kooperatif, beberapa unsur yang harus dipenuhi agar kualitas pencapaian pembelajaran dapat diraih secara maksimal paling tidak mengandung:
  1. Setiap anggota dalam proses pembelajaran mengeluarkan kemampuan terbaik yang mereka miliki.
  2. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab secara individu untuk kelompoknya. Hal ini bertujuan agar setiap individu tidak terbebani dengan anggota lain.
  3. Aspek pembagian tugas dilakukan dengan jelas, tidak ada tumpah tindih tugas untuk setiap anggota kelompok dan juga pembagian dilakukan mempertimbangkan bobot tugas dan kemampuan dari masing-masing anggota.
  4. Aspek evaluasi yang memberikan informasi mengenai proses pembelarajan yang telah dilakukan sehingga perbaikan dapat dilakukan.

Manfaat Praktis Pembelajaran Kooperatif

Selain dari tujuan pembelajaran kooperatif yang dapat menginfisiensikan waktu atau sebuah keharusan sehingga pembelajaran, Johnson (1984) menemukan keunggulan dari pembelajaran kooperatif yang terbagi dalam 20 poin. Adapun keunggulan tersebut adalah:
  1. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.
  2. Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati.
  3. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan.
  4. Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen.
  5. Meningkatkan keterampilan metakognitif.
  6. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois dan egosentris.
  7. Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial.
  8. Menghilangkan siswa dari penderitaan akibat kesendirian atau keterasingan.
  9. Dapat menjadi acuan bagi perkembangan kepribadian yang sehat dan terintegrasi.
  10. Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa.
  11. Mencegah timbulnya gangguan kejiwaan.
  12. Mencegah terjadinya kenakalan di masa remaja.
  13. Menimbulkan perilaku rasional di masa remaja.
  14. Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan.
  15. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia.
  16. Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif.
  17. Meningkatkan perasaan penuh makna mengenai arah dan tujuan hidup.
  18. Meningkatkan keyakinan terhadap ide atau gagasan sendiri.
  19. Meningkatkan kesediaan menggunukan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.
  20. Meningkatkan motivasi belajar intrinsik.
Pengantar Model Pembelajaran Kooperatif

Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif.

Setelah mengkaji beberapa unsur yang ada pembelajaran kooperatif, ciri pembelajaran kooperatif terdiri atas empat ciri. Menurut Lie (2004): 

1. Saling Ketergantungan Positif
Pada proses pembelajaran kooperatif, Guru memiliki peran sebagai fasilitator yang mendorong peserta didik untuk merasa saling membutuhkan sehingga mereka saling bekerja sama dengan menggunakan seluruh keterampilan untuk mencapai tujuan bersama.

2. Interaksi tatap muka
Dengan hal ini dapat memaksa siswa saling beinteraksi sehingga mereka akan berdialog. Dialog yang terjadi tidak hanya dilakukan dengan guru tetapi dengan teman sebaya juga karena biasanya siswa akan lebih luwes, lebih mudah belajarnya dengan teman sebaya.

3. Akuntabilitas individual
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditunjukkan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian ini selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua kelompok mengetahui siapa kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan,maksudnya yang dapat mengajarkan kepada temannya. Nilai kelompok tersebut harus didasarkan pada rata-rata, karena itu anggota kelompok harus memberikan kontribusi untuk kelompnya. Intinya yang dimaksud dengan akuntabilitas individual adalah penilaian kelompok yang didasarkan pada rata-rata penguasaan semua anggota secara individual.

4. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Keterampilan sosial dalam menjalin hubungan antar siswa harus diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antar pribadi akan memperoleh teguran dari guru juga siswa lainnya.

0 Response to "Pengantar Model Pembelajaran Kooperatif"

Post a Comment